Peringati Hari Lingkungan Hidup 2026, FT Unmul dan Pertamina EP Sangatta Field Serukan Aksi Nyata Hadapi Krisis Iklim
SAMARINDA – Fakultas Teknik Universitas Mulawarman (FT Unmul) berkolaborasi dengan Pertamina EP Sangatta Field sukses menyelenggarakan Kuliah Umum dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Agenda penting yang berlangsung pada awal Juni 2026 ini mengusung tema "Perubahan Iklim di Depan Mata, Aksi Kita Harus Nyata" sebagai bentuk respons aktif civitas akademika dan sektor industri terhadap ancaman degradasi lingkungan global. Melalui kemitraan strategis ini, kedua belah pihak berkomitmen untuk memfasilitasi ruang edukasi dan diskusi interaktif guna merumuskan langkah taktis yang dapat diimplementasikan oleh generasi muda dalam memitigasi dampak perubahan iklim, khususnya di wilayah Kalimantan Timur.
Rangkaian acara diawali oleh laporan dan sambutan pertama yang disampaikan oleh Koordinator Program Studi (KPS) Teknik Lingkungan FT Unmul, Febrina Zulya, S.T., M.T., yang mengapresiasi sinergi erat antara institusi pendidikan dan sektor industri dalam mengawal isu-isu keberlanjutan. Sambutan kedua disampaikan oleh Sofian Cahyo Aji Pratama selaku perwakilan dari Environmental Sangatta Field Pertamina, yang memaparkan komitmen nyata perusahaan dalam menerapkan standardisasi operasional ramah lingkungan serta dukungannya terhadap program-program edukasi ekologis. Selanjutnya, sambutan ketiga sekaligus membuka acara secara resmi disampaikan oleh Dekan Fakultas Teknik yang pada kesempatan ini diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Hubungan Masyarakat, Ir. Fahrizal Adnan, S.T., M.Sc. Dalam pidato pembukaannya, beliau memberikan penekanan kuat bahwa fenomena climate change (perubahan iklim) global saat ini telah bergeser fasenya menjadi situasi yang lebih mengancam, yakni climate crisis (krisis iklim) karena suhu global kini sudah mendekati batas kritis +1,5°C sesuai Paris Agreement.
Pembukaan acara dengan penyerahan bibit secara simbolis dari FT unmul kepada Enviromental Sangatta Field Pertamina
Memasuki sesi inti, kuliah umum ini menghadirkan perspektif yang saling melengkapi antara regulasi makro pemerintah daerah dan kerangka akademis ilmiah. Pemaparan pertama disampaikan oleh Pathur Rachman As'ad, S.Hut., MP., selaku Staf Tata Lingkungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Timur yang mengupas tuntas kebijakan daerah. Beliau memaparkan bahwa berdasarkan komitmen Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC) 2022, Perpres 98/2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK), dan Permen LHK 12/2024, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca pada 2030 sebesar 31,89% melalui upaya sendiri dan hingga 43,20% dengan bantuan internasional dibanding skenario Business as Usual (BaU). Implementasi aksi mitigasi dititikberatkan pada lima sektor kunci, yaitu energi melalui pemanfaatan EBT dan kendaraan listrik, kehutanan lewat reduksi deforestasi, pertanian, pengelolaan limbah, serta efisiensi pada sektor industri penunjang. Di tingkat daerah, sektor kehutanan memegang peran paling dominan dalam target penurunan emisi di Kalimantan Timur yaitu mencapai 83,43%, disusul sektor energi sebesar 13,01%, pertanian 1,51%, limbah 1,44%, dan industri sebesar 0,61%.
Selain langkah mitigasi, Pathur Rachman As'ad juga menggarisbawahi pentingnya aksi adaptasi melalui penguatan tiga pilar ketahanan yang mencakup ketahanan ekonomi, ketahanan sosial untuk pengurangan risiko bencana, serta ketahanan ekosistem. Langkah nyata Kalimantan Timur diwujudkan melalui penyusunan Rencana Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Provinsi 2024–2030, partisipasi aktif sebagai pilot program FCPF-CF untuk pembayaran berbasis kinerja REDD+, pelaksanaan inventarisasi GRK berkala, serta pemanfaatan Sistem Registri Nasional untuk sertifikasi kampung iklim. Kebijakan ini diperkuat melalui ilustrasi "Pohon Kebijakan NDC" yang menggambarkan keterpaduan payung hukum, kapasitas kelembagaan, dukungan pendanaan, hingga kemitraan kolaboratif lintas sektor. Seluruh peta jalan hijau ini selaras dengan Misi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kaltim 2025–2029 di bawah visi "Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas" yang menempatkan pembangunan berwawasan lingkungan berkelanjutan dan penguatan ekonomi sirkular sebagai pilar utamanya.
Diskusi kemudian dipertajam oleh materi kedua dari Ir. Fahrizal Adnan, S.T., M.Sc. mengenai implementasi nyata dari konsep Circular Economy (CE) dalam mendukung pengurangan emisi karbon. Beliau memaparkan bahwa model ekonomi linear konvensional yang mengandalkan prinsip ambil, buat, dan buang terbukti menghasilkan 70% emisi global, di mana industri ekstraktif nasional menyumbang 44% emisi tersebut, dan Kalimantan Timur menjadi kontributor emisi terbesar di regional Kalimantan akibat dominasi sektor migas dan batu bara. Sebagai solusinya, sistem ekonomi sirkular yang bersifat regeneratif ditawarkan untuk meminimalkan limbah menggunakan Framework 9R dengan prioritas tertinggi pada pencegahan sejak awal proses. Berdasarkan kajian ilmiah, penerapan skenario ekonomi sirkular diproyeksikan mampu menekan emisi Kaltim secara drastis dari 193 Mt CO₂ menjadi hanya 38 Mt CO₂ pada tahun 2035 melalui optimalisasi efisiensi material, tata guna lahan, efisiensi proses industri, transportasi berkelanjutan, serta pembangunan infrastruktur ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Ir. Fahrizal Adnan memetakan lima peluang strategis yang sangat potensial untuk diimplementasikan di wilayah Kalimantan Timur, mulai dari proyek Gas Flaring Recovery untuk mengonversi gas buang Pertamina EP Sangatta menjadi listrik komunitas berpotensi 8 MW, pemanfaatan biomassa residual kayu untuk energi, penerapan simbiosis industri, pembentukan pusat daur ulang baterai kendaraan listrik, hingga pengolahan air limbah pascatambang untuk irigasi pertanian. Agar visi besar ini dapat terealisasi, beliau menekankan pentingnya adopsi kerangka kolaborasi Triple Helix yang mengolaborasikan Universitas Mulawarman dari sisi riset, PT Pertamina EP Sangatta sebagai penyedia pendanaan serta proyek percontohan, dan Pemerintah Daerah Kaltim sebagai penyusun regulasi. Sinergi ini bertujuan menjadikan Kalimantan Timur sebagai provinsi percontohan ekonomi sirkular nasional yang mampu mereduksi emisi hingga 40% dari baseline. Kuliah umum ini berhasil menarik benang merah yang kuat bahwa inovasi keteknikan dan kebijakan daerah harus berjalan beriringan demi mewujudkan masa depan Nusantara yang hijau dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan tindak lanjut dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, kegiatan seminar ditutup dengan pembagian bibit pohon kepada para peserta. Kegiatan ini diharapkan menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga lingkungan serta mendorong budaya menanam dan merawat pohon di lingkungan sekitar. Melalui pembagian bibit ini, diharapkan setiap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dari seminar, tetapi juga turut mengambil langkah nyata dalam mendukung keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang.





